LIRIK POTENSI INDONESIA-INGGRIS PASCA BREXIT

Pada tanggal 26 Juni 2016, Inggris memutuskan untuk keluar dari Uni Eropa. Kejadian ini disebut dengan istilah “brexit”. Brexit merupakan sebuah wacana dimana Inggris menyatakan akan meninggalkan/keluar dari Uni Eropa atau tidak sehingga diadakan pengambilan suara (referendum) yang dilakukan oleh warga Negara Inggris dan 18 warga Negara commonwealth. Hasil referendum memutuskan Inggris Raya keluar dari Uni Eropa. Suara yang memilih keluar menang dengan 52% dibanding 48% suara tetap dalam Uni Eropa. Tingkat partisipasi pemilih mencapai 71,8% dengan lebih dari 30 juta pemilih memberikan suara. Sampai dengan saat ini, proses keluarnya Inggris dari Uni Eropa masih terus berlangsung. Uni Eropa (UE) dan Inggris telah mencapai kesepakatan transisi Brexit atau keputusan Inggris untuk keluar dari keanggotaan UE akan ditandatangani oleh para pemimpin KTT Uni Eropa. Diperkirakan proses tersebut akan selesai pada tahun 2019.

Sementara itu, bagaimana Indonesia menyikapi hal tersebut? Keluarnya Inggris dari Uni Eropa diperkirakan tidak memberikan dampak yang signifikan terhadap perekonomian Indonesia. Kendati demikian, Indonesia dan Inggris sama-sama memiliki potensi besar untuk mengembangkan ekonomi melalui peningkatan akses pasarnya. Berikut perbandingan profile kedua Negara :

INDONESIA

KETERANGAN

INGGRIS

1,904,569 Km2

Luas Wilayah

243,610 km2

260,580,739 (Juli 2017 est.)

Jumlah Penduduk

65,648,100

$1.011 trillion (2017 est.)

GDP (Official Exchange Rate)

$2.565 trillion (2017 est.)

$12,400 (2017 est.)

GDP Per Capita (PPP)

$43,600 (2017 est.)

5.4% (2017 est.)

Tingkat Pengangguran

4.4% (2017 est.)

$157.8 billion (2017 est.)

Ekspor ke Dunia

$436.5 billion (2017 est.)

Mineral fuels, animal or vegetable fats (includes palm oil), electrical machinery, rubber, machinery and mechanical appliance parts

Komoditas Ekspor Utama

Manufactured goods, fuels, chemicals; food, beverages, tobacco

China 11.6%, US 11.2%, Japan 11.1%, Singapore 7.8%, India 7%, Malaysia 4.9%, South Korea 4.8% (2016)

Negara Tujuan Ekspor

US 14.8%, Germany 10.7%, France 6.4%, Netherlands 6.2%, Ireland 5.6%, Switzerland 4.6%, China 4.4% (2016)

$142.3 billion (2017 est.)

Impor dari Dunia

$602.5 billion (2017 est.)

mineral fuels, boilers, machinery, and mechanical parts, electric machinery, iron and steel, foodstuffs

Komoditas Impor Utama

Manufactured goods, machinery, fuels; foodstuffs

China 22.9%, Singapore 10.8%, Japan 9.6%, Thailand 6.4%, US 5.4%, Malaysia 5.4%, South Korea 5% (2016)

Negara Asal Impor

Germany 13.6%, US 9.3%, China 9.2%, Netherlands 7.4%, France 5.2%, Belgium 4.9%, Switzerland 4.5% (2016)

KINERJA PERDAGANGAN

Inggris merupakan mitra dagang ke-4 terbesar bagi Indonesia dari negara-negara Eropa dengan total nilai perdagangan sebesar US$ 2,48 miliar pada tahun 2016. Angka tersebut berkontribusi sebesar 9,85% dari total perdagangan ke Uni Eropa. Total perdagangan tersebut terdiri dari ekspor sebesar US$ 1,59 milyar dan impor sebesar US$ 893 juta.  Surplus sebesar US$ 697 juta. Ekspor produk industri menyumbang sebesar US$ 1,46 milyar (91,95% dari total ekspor). Sementara itu, impor didominasi oleh produk industri sebesar US$ 791 juta (88,55% dari total impor). Ekspor produk industri didominasi oleh produk-produk Hasil Hutan dan Perkebunan, Tekstil dan Aneka, Elektronika dan Alat Transportasi Darat. Sementara itu, produk-produk yang diimpor dari Inggris didominasi oleh produk-produk Logam, Maritim, dan Kimia.

PELUANG INVESTASI

Investasi Inggris ke dunia mencapai £ 50,3 milyar. Di wilayah Asia, negara-negara yang merupakan tujuan utama investasi Inggris antara lain: Hongkong, Cina, India, Jepang dan Indonesia. Sektor yang dituju sebagian besar di bidang Financial services, Professional, scientific & technical services. Khusus investasi ke Jepang, Inggris juga melakukan investasi di sector Metal and machinery products.

Sementara itu, pada tahun 2016, Inggris menempati urutan ke-8 sebagai investor asing yang menanamkan modalnya di Indonesia dengan nilai investasi sekitar USD 270 juta. Adapun sebgaian besar Investasi Inggris tersebut terdapat pada sektor Tanaman dan Perkebunan (US$ 146,7 juta dan 41 proyek), Industri Makanan (US$ 42 juta dan 36 proyek), Industri Karet, Barang dari karet dan Plastik (US$ 21,7 juta dan 9 proyek), dan Industri Kimia Dasar, Barang Kimia dan Farmasi (US$ 13,3 juta dan 25 proyek). Diharapkan, peningkatan investasi terjadi melalui kerjasama perdagangan bilateral.

 

KERJASAMA KEDUA NEGARA

Pasca keluar dari Uni Eropa Inggris berencana akan membangun hubungan kerjasama terutama di bidang perdagangan dengan berbagai negara dalam rangka menghilangkan hambatan perdagangan dan meningkatkan kinerja perdagangan dengan negara mitra. Selama ini, belum ada kerjasama FTA  Inggris dengan negara mitra secara bilateral, kerjasama yang sudah terjalin masih dalam kerangka Uni Eropa dengan negara mitra. Uni Eropa sudah menjalin hubungan kerjasama di bidang perdagangan (FTA) dengan berbagai negara mitra diantaranya: Australia, Cina, India, Georgia, Jepang, Korea Selatan, New Zealand, Pakistan dan beberapa Negara Anggota Asean. Uni Eropa juga melakukan kerjasama FTA dengan ASEAN.

Sementara itu, Indonesia juga memiliki hubungan kerjasama dengan beberapa negara yang sama dengan negara mitra Uni Eropa, antara lain: Australia (IA-CEPA), Cina (melalui ASEAN- Hongkong, China FTA), India (India-Indonesia CECA), Jepang (IJEPA), Korea Selatan (Indonesia- Republic of Korea FTA), New Zealand (melalui AANZ FTA) dan Pakistan (Indonesia-Pakistan FTA).

Saat ini Direktorat Akses Pasar Industri Internasional, Ditjen KPAII, Kementerian Perindustrian sedang melakukan kajian mengenai potensi kerjasama bilateral antara Indonesia dan Inggris. Tujuan yang ingin dicapai dalam kajian tersebut adalah untuk mengetahui potensi kerja sama antara Indonesia dan Inggris serta langkah strategis apa yang dapat dilakukan dalam rangka mengoptimalkan hubungan bilateral tersebut agar Indonesia dapat memperoleh keuntungan lebih khususnya di bidang perdagangan industri. Kajian tersebut ditargetkan selesai pada akhir tahun 2018. Diharapkan hasil kajian ini dapat dijadikan bahan pertimbangan bagi pemerintah dalam menentukan langkah strategis dalam menyikapi keluarnya Inggris dari Uni Eropa (Brexit) dan dalam upaya menjalin hubungan kemitraan secara bilateral antara Indonesia dan Inggris.