Kerjasama Teknik

RI-SWISS Jalin Kerjasama Bidang Vokasi

Penandatanganan MoU Technical Cooperation in Dual Vocational Education and Training Development Through Skill for Competitiveness Program (S4C Program) antara Menteri Perindustrian RI dengan Menteri Ekonomi, Pendidikan, dan Riset Swiss Johann N Schneider-Ammann diselenggarakan pada bulan Januari di sela-sela kegiatan World Economic Forum (WEF) 2018 di Davos.  

Pemerintah Indonesia dan Swiss sepakat melakukan kerjasama di bidang pendidikan dan pelatihan vokasi, terutama terkait pengembangan sistem politeknik dan akademi komunitas. Terdapat empat sekolah vokasi Kemenperin yang akan dibantu, yaitu Politeknik Baja Batulicin, Kalimantan Selatan, Politeknik Logam Morowali, Sulawesi Tengah, Politeknik Kayu dan Pengolahan Kayu Kendal, Jawa Tengah, serta Akademi Komunitas Industri Logam Bantaeng, Sulawesi Selatan. Selain itu, terdapat pula sebuah sekolah milik Kemenristekdikti yakni Politeknik Pemrosesan Ikan di Jember, Jawa Timur sebagai sekolah tersasar.



Selanjutnya ...

Peningkatan Investasi melalui Kerangka Kerjasama Kemenperin-JETRO

Menteri Perindustrian menghadiri Indonesia Investment & Business Forum (IIBF) pada tanggal 17 Oktober 2017 di Tokyo dan 19 Oktober 2017 di Nagoya, Jepang. Dalam forum tersebut, Menteri Perindustrian selain memaparkan program-program deregulasi, pembangunan infrastruktur, dan pengembangan digital ekonomi juga mengajak kalangan industri Jepang yang bergerak di sektor industri otomotif dan elektronika (termasuk spare-part, desain, dan jasa engineering), makanan dan minuman serta pengelola kawasan industri untuk menanamkan investasinya.

Forum ini merupakan salah satu rangkaian kegiatan dalam program kerjasama “Improvement of International Competitiveness of Manufacturing Industries” antara Kementerian Perindustrian dengan Japan External Trade Organization (JETRO)-Jepang pada tahun 2017. Selain forum tersebut, juga terdapat beberapa kegiatan lain, yaitu: i) Policy Discussion; ii) Research on the need of Indonesian Industries towards improvement of International competitiveness; dan iii) Business matching event.



Selanjutnya ...

Kolaborasi Indonesia-Iran melalui Teknologi Nano

Peran teknologi dalam memajukan perekonomian khususnya di sektor industri dirasa penting. Teknologi Nano dalam hal ini dapat mempercepat proses transisi dari resource-based economy menuju knowledge-based economy.

Meski pencapaian sains teknologi nano di Indonesia sangat baik, implementasi teknologi nano pada skala industri/komersial masih menjadi tantangan. Terbatasnya informasi mengenai teknologi nano berakibat kurangnya public awareness baik di tingkat konsumen maupun pelaku industri sehingga pasar produk berbasis teknologi nano juga masih kecil. Selain itu, standar atau regulasi terkait dibutuhkan sebagai infrastruktur utama pendukung pengembangan teknologi nano untuk skala industri. Tanpa standar yang berlaku (misal mengacu ISO/TC 229), akan sulit mendorong berkembangnya perusahaan maupun produk berbasis nano. Iran dalam hal ini merupakan salah satu Negara yang sangat maju (No. 4 dunia setelah China, Amerika Serikat dan India) dalam bidang produksi ilmu pengetahuan untuk kategori teknologi nano di dunia, dimana Iran telah memiliki 461 jenis produk Teknologi Nano yang diekspor ke lebih dari 30 Negara. Saat ini, Iran memiliki lebih dari 200 Perusahaan yang memiliki kemampuan di bidang Teknologi Nano. Iran yang telah memberikan perhatian khusus pada pengembangan teknologi nano tersebut bahkan menempatkan Iran Nanotechnology Initiative Council (INIC) berada langsung di bawah Presiden Iran.

Dilatarbelakangi hal tersebut serta menindaklanjuti hasil kunjungan Presiden RI ke Iran pada 13 – 14 Desember 216, kunjungan Menko Bidang Perekonomian ke Tehran pada 26-27 Februari 2017 dan pertemuan antara Menteri Perindustrian dengan delegasi INIC pada 11 April 2017, Ditjen. KPAII telah memfasilitasi pelaksanaan “The Prospect of Indonesia-Iran Nanotechnology Collaboration: Talkshow & Business Matchmaking pada 29 Agustus tahun lalu.



Selanjutnya ...

KERJASAMA INDONESIA-TIMOR LESTE: Pengembangan SDM, Standardisasi dan Sertifikasi

Kunjungan kerja ke Dili, Timor Leste yang dilaksanakan pada tanggal 1 – 7 April 2018 merupakan tindak lanjut penandatanganan MoU kerjasama teknik di bidang industri antara Kementerian Perindustrian RI dengan The Ministry of Commerce, Industry and Environment (MCIE), Republik Demokratik Timor Leste (RDTL) pada tanggal 4 Mei 2016 di Jakarta. Kunjungan ini sekaligus menindaklanjuti inisiasi kerjasama mengenai pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM), standardisasi dan sertifikasi produk,   untuk mendukung penerapan standar di Timor Leste yang diusulkan oleh Direktur Jenderal Industri dan Koperasi MCI RDTL, Mr. Antonio da Costa, pada saat pertemuan dengan Ditjen KPAII pada 12 Maret 2018 di Jakarta.

Kunjungan di Dili diawali dengan pertemuan yang dibuka dan dipimpin oleh Menteri Perdagangan dan Perindustrian Republik Demokratik Timor Leste, Mr. Antonio da Conceicao. Dalam sambutannya, Beliau menyampaikan apresiasi yang tinggi atas komitmen Kementerian Perindustrian dalam mengimplementasi-kan program-program kerjasama antara Kementerian Perindustrian RI dan Kementerian Perdagangan dan Perindustrian RDTL. Pelaksanaan program dan kegiatan kerjasama tersebut merupakan bagian dari dukungan dan komitmen Pemerintah RI kepada negara selatan-selatan khususnya Timor Leste, baik yang dilakukan dalam skema bilateral maupun melalui skema triangular dengan kantor perwakilan JICA Timor Leste.

Selanjutnya, ditemukan beberapa hal yang dapat mendukung tindak lanjut kerjasama Indonesia dan Timor Leste, antara lain belum dilakukannya perumusan standar; belum dilakukannya pengujian dan sertifikasi terhadap barang-barang produk impor; belum adanya pengawasan atas barang beredar; belum tersedianya laboratorium yang terakreditasi; sumber daya manusia yang kompeten; dan lembaga sertifikasi untuk mendukung penerapan standar di Timor Leste. Dalam rangkaian kunjungan tersebut, Wakil Menteri Industri dan Perdagangan Timor Leste, Mr. Jacinto Barros Gusmao menyampaikan harapan dukungan Pemerintah Indonesia melalui kerjasama alih ilmu pengetahuan dan  teknologi serta peningkatan kapasitas guna meningkatkan kompetensi SDM di bidang standardisasi dan sertifikasi.



Selanjutnya ...