
Indonesia Siapkan Kerja Sama Industri dengan Azerbaijan, Buka Peluang Investasi dan Akses Pasar Eurasia

Azerbaijan semakin mengukuhkan posisinya sebagai penghubung utama perdagangan antara Asia dan Eropa. Posisi strategis tersebut membuka peluang bagi Indonesia untuk memperluas ekspor produk manufaktur, menarik investasi, dan membangun kemitraan industri yang lebih erat di kawasan Eurasia. Peluang itu menjadi salah satu fokus dalam pertemuan bilateral antara Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh Republik Indonesia untuk Federasi Rusia merangkap Republik Belarus, Jose Antonio Morato Tavares dengan Penasihat Menteri Ekonomi Republik Azerbaijan, Mammad Abbasbeyli di Paviliun Indonesia pada ajang INNOPROM 2026 di Ekaterinburg, Rusia.
Menteri Perindustrian Republik Indonesia Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan, Indonesia memanfaatkan keikutsertaan sebagai Partner Country pada INNOPROM 2026 untuk memperluas kemitraan industri dengan negara-negara Eurasia, termasuk Azerbaijan yang memiliki posisi strategis sebagai penghubung perdagangan antara Asia dan Eropa. "Kami ingin memanfaatkan momentum INNOPROM 2026 untuk memperkuat kemitraan industri, memperluas akses investasi, mendorong alih teknologi, dan membangun kerja sama yang memberikan manfaat nyata bagi kedua negara," ujar Agus, di Ekaterinburg (7/7).
Keikutsertaan Indonesia sebagai Partner Country pada INNOPROM 2026 juga menjadi sarana untuk memperkenalkan berbagai capaian dan potensi industri manufaktur nasional kepada pelaku industri dan investor global. Pameran yang diikuti hampir 900 peserta dari lebih dari 50 negara tersebut menjadi ajang untuk memperkenalkan Indonesia untuk memperluas jejaring kemitraan industri, meningkatkan investasi, serta menjajaki kerja sama teknologi dengan berbagai mitra internasional.
Pertemuan bilateral tersebut menghasilkan kesepakatan untuk mempercepat pembahasan penyusunan Memorandum of Understanding (MoU) kerja sama industri. Sebagai tindak lanjut, Kementerian Perindustrian (Kemenperin) RI telah menyampaikan rancangan MoU kepada Pemerintah Azerbaijan melalui jalur diplomatik sebagai dasar untuk memperkuat kemitraan industri kedua negara secara lebih terstruktur dan berkelanjutan.
Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh Republik Indonesia untuk Federasi Rusia merangkap Republik Belarus, Jose Antonio Morato Tavares, menyampaikan bahwa Indonesia berharap pembahasan MoU dapat segera ditindaklanjuti sehingga menjadi landasan bagi penguatan kerja sama industri, perdagangan, dan investasi antara Indonesia dan Azerbaijan. Menurutnya, komunikasi yang telah terjalin baik antara kedua negara menjadi modal penting untuk merealisasikan berbagai peluang kerja sama yang telah dibahas dalam pertemuan bilateral tersebut.
Indonesia mengusulkan sejumlah bidang kerja sama dalam MoU tersebut, mulai dari pertukaran informasi mengenai standar dan regulasi industri, pengembangan rantai pasok, alih teknologi, pengembangan kawasan industri, penyelenggaraan forum bisnis, hingga peningkatan kapasitas sumber daya manusia. Indonesia berharap Azerbaijan segera memberikan tanggapan agar proses finalisasi MoU dapat segera dimulai.
Indonesia memandang Azerbaijan sebagai mitra strategis karena negara tersebut berkembang sebagai salah satu pusat logistik yang menghubungkan Asia dan Eropa melalui jalur Trans-Caspian International Transport Route (Middle Corridor) dan International North-South Transport Corridor (INSTC). Jalur tersebut berpotensi memperluas akses produk manufaktur Indonesia ke kawasan Kaukasus, Asia Tengah, Eropa Timur, hingga negara-negara Commonwealth of Independent States (CIS) atau kelompok negara bekas Uni Soviet.
Hubungan perdagangan Indonesia dan Azerbaijan terus menunjukkan potensi yang saling melengkapi. Indonesia mencatat surplus perdagangan nonmigas melalui ekspor minyak sawit, sabun, plastik, tembakau, dan makanan olahan, sedangkan Azerbaijan memasok minyak mentah ke Indonesia. Pada 2025 nilai perdagangan kedua negara mencapai USD155,2 juta. Capaian tersebut memperkuat hubungan diplomatik yang telah terjalin sejak 24 September 1992.
Finalisasi MoU tersebut diharapkan menjadi landasan bagi peningkatan investasi, perluasan akses pasar manufaktur Indonesia di kawasan Eurasia, penguatan rantai pasok industri, serta percepatan alih teknologi yang dapat meningkatkan daya saing industri nasional.
Demikian Siaran Pers ini untuk disebarluaskan.
