
Work-Life Series: Mental Tangguh di Tengah Arus Perubahan

Perubahan yang datang tanpa aba-aba sering kali membuat siapapun kewalahan, mulai dari adaptasi lingkungan kerja, tuntutan baru, sampai tekanan untuk terus produktif. Fenomena inilah yang menjadi latar belakang digelarnya podcast Work-Life Series bertema Thriving in Times of Change (Tetap Waras di Tengah Tekanan). Acara ini disiarkan live melalui kanal YouTube Direktorat Jenderal Ketahanan, Perwilayahan dan Akses Industri Internasional (Ditjen KPAII) Kementerian Perindustrian (Kemenperin) dan ditujukan untuk membantu pegawai memahami cara menjaga kesehatan mental di tengah situasi yang serba berubah.
“Perubahan itu pasti, tapi kemampuan kita merespons menentukan apakah kita hanya bertahan atau justru berkembang. Menjaga kesehatan mental adalah langkah penting agar kita bisa tetap fokus dan produktif,” ujar Sekretaris Ditjen KPAII, Syahroni Ahmad, dalam keterangan persnya di Jakarta (17/11). Ia pun menyampaikan bahwa topik ini sangat relevan bagi pegawai pemerintah yang bekerja dalam ritme perubahan organisasi yang cepat.
Podcast ini menghadirkan narasumber Tiara Puspita, M.Psi., Psikolog, C M T, C P O D, yang membagikan pemahaman mengenai kenapa perubahan sering memicu rasa cemas, resistance, bahkan burnout. Tiara yang telah mendampingi ratusan organisasi, memaparkan bahwa respons awal terhadap perubahan biasanya berupa shock atau penolakan, namun hal itu sangat wajar dan bisa diolah menjadi energi positif.
Dalam sesi materi, Tiara mengajak peserta memahami perbedaan antara sekadar coping dan benar-benar thriving. “Kita sering hanya fokus bertahan, padahal kita mampu tumbuh. Caranya dengan mengubah perspektif dan mencari peluang di dalam tantangan,” jelasnya. Ia juga menekankan pentingnya fleksibilitas psikologis, mindfulness, serta tindakan berbasis nilai pribadi sebagai kompas dalam menghadapi tekanan.
Berbagai teknik praktis juga dibagikan, mulai dari latihan grounding, teknik pernapasan box breathing, hingga Formula 3R (Regulasi Emosi, Reframe, Reconnect) yang membantu menenangkan tubuh dan pikiran. Tiara mengajak peserta untuk berefleksi, mengenali perasaan mereka sendiri, dan memberikan ruang untuk menerima hal yang tidak selalu nyaman. Pendekatan ini dirancang agar pegawai mampu kembali stabil sekaligus lebih siap menghadapi perubahan berikutnya.
Tak hanya itu, peserta didorong untuk mengambil langkah kecil sebagai bentuk keberanian memulai proses adaptasi. “Tidak perlu langsung besar. Satu langkah kecil setiap hari sudah cukup untuk mengurangi rasa takut dan membangun kebiasaan baru,” ujar Tiara dengan nada penuh semangat. Diskusi berlangsung interaktif, dengan banyak pegawai yang ikut berbagi pengalaman terkait perubahan di lingkungan kerja.
“Kesehatan mental bukan hanya urusan pribadi, tapi aset penting organisasi. Semoga sesi ini membantu kita semua tetap waras, tangguh, dan saling mendukung ketika menghadapi perubahan,” Ujar Syahroni. Acara kemudian ditutup oleh moderator dengan ajakan untuk terus mengikuti seri diskusi berikutnya sebagai upaya bersama menciptakan lingkungan kerja yang lebih sehat dan adaptif.
Demikian berita kegiatan ini untuk disebarluaskan.
